Banner

Memaknai Hijrah dalam Kesadaran Keberagamaan Menghadapi Era Society 5.0 dan Kecerdasan Buatan

Oleh: Dr. KH. Qudsi Ahmad, MPdI
Pengasuh Pondok Pesantren Modern Tahfidz Qur’an Dar Assalam Athohiriyah dan Dosen PIAUD Universitas PTIQ

Perubahan zaman terus bergerak dengan sangat cepat. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), digitalisasi, dan perkembangan teknologi telah membawa manusia memasuki era Society 5.0, yaitu sebuah tatanan masyarakat yang menempatkan manusia sebagai pusat kemajuan teknologi. Dalam kondisi demikian, umat Islam tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga dituntut untuk memiliki kesadaran keberagamaan yang kuat agar perkembangan zaman tetap berjalan dalam koridor nilai dan kemuliaan.

Dalam Islam dikenal konsep iman, hijrah, dan jihad sebagai satu kesatuan nilai yang membentuk peradaban. Ketiga konsep tersebut bukan hanya relevan pada masa Rasulullah SAW, tetapi juga tetap hidup dan dapat dimaknai dalam menghadapi tantangan zaman modern.

Allah SWT berfirman:

> إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah: 218)



Ayat tersebut memberikan pemahaman bahwa iman menjadi dasar, hijrah menjadi jalan perubahan, dan jihad menjadi kesungguhan dalam menjaga serta memperjuangkan kebenaran.

Iman merupakan pondasi utama dalam kehidupan. Keimanan tidak berhenti pada keyakinan di dalam hati, tetapi melahirkan cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak. Di tengah derasnya arus informasi dan teknologi, iman menjadi kompas moral agar manusia tidak kehilangan orientasi hidup.

Rasulullah SAW telah memberikan teladan melalui perjalanan dakwahnya. Ketika di Makkah, Rasulullah membangun kekuatan akidah para sahabat. Setelah fondasi keimanan terbentuk, beliau melakukan hijrah ke Madinah dan membangun masyarakat yang berperadaban.

Allah SWT berfirman:

> وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.”
(QS. An-Nisa: 100)



Hijrah dalam konteks hari ini tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi perpindahan pola pikir dan kualitas kehidupan. Hijrah berarti bergerak dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari ketergantungan menuju kemandirian, dari penggunaan teknologi yang tidak produktif menuju teknologi yang memberi manfaat bagi umat dan kemanusiaan.

Sementara itu, jihad pada era Society 5.0 bukan dipahami sebatas dimensi fisik, tetapi sebagai kesungguhan untuk menjaga nilai Islam di tengah perubahan zaman. Jihad diwujudkan melalui pendidikan, penguatan literasi, pengembangan ilmu pengetahuan, dakwah yang mencerahkan, serta kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Allah SWT berfirman:

> وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”
(QS. At-Taubah: 105)



Ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mendorong produktivitas, kreativitas, dan kontribusi nyata bagi kehidupan.

Kecerdasan buatan pada dasarnya hanyalah alat. Teknologi dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, pengembangan ilmu, dan pelayanan sosial apabila digunakan dengan benar. Namun tanpa nilai spiritual dan etika, teknologi juga dapat melahirkan krisis kemanusiaan, budaya instan, dan melemahnya kesadaran moral.

Karena itu, kesadaran keberagamaan di era Society 5.0 harus dibangun melalui keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kedalaman spiritual. Umat Islam perlu hadir sebagai pelaku perubahan yang mampu memadukan kecanggihan teknologi dengan nilai ilahiah.

Pada akhirnya, iman memberikan arah, hijrah menghadirkan perubahan, dan jihad melahirkan daya juang. Ketiganya menjadi fondasi untuk membangun peradaban yang maju, berilmu, berakhlak, dan tetap berorientasi kepada ridha Allah SWT.
F