Banner

Model Pembelajaran Berbasis Kooperatif bagi Santri di Pondok Pesantren Modern Tahfidz Qur'an Daar Assalam Attahiriyah


Model pembelajaran yang diterapkan di Pondok Pesantren Modern Tahfidz Qur'an Daar Assalam Attahiriyah menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) yang menempatkan santri sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Model ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan memahami materi, berpikir kritis, berkomunikasi, serta membangun sikap saling membantu dan bekerja sama antarsantri.

Tahapan pembelajaran dimulai dengan kegiatan membaca materi pelajaran secara mandiri atau bersama-sama. Setelah membaca, setiap santri diminta mengartikan dan menjelaskan isi materi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Tahap ini bertujuan melatih kemampuan literasi, pemahaman, dan penguasaan kosakata, khususnya dalam pembelajaran Al-Qur'an, hadis, kitab kuning, maupun mata pelajaran keislaman lainnya.

Selanjutnya, santri dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk melakukan diskusi. Pada tahap ini mereka saling bertanya, bertukar pendapat, memberikan penjelasan kepada teman yang belum memahami materi, serta mencari solusi terhadap persoalan yang diberikan guru. Proses ini menumbuhkan sikap gotong royong, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.

Hasil diskusi kelompok kecil kemudian dibahas dalam diskusi kelompok besar yang melibatkan seluruh santri di kelas. Setiap kelompok menyampaikan hasil pembahasannya, sementara kelompok lain memberikan tanggapan, pertanyaan, maupun masukan. Kegiatan ini melatih keberanian berpendapat, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi.

Tahap berikutnya adalah presentasi di depan kelas. Perwakilan kelompok memaparkan hasil diskusi secara sistematis, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan jalannya diskusi agar tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Sebagai penutup, guru memberikan pengukuhan (reinforcement) berupa penjelasan, koreksi, penyempurnaan konsep, dan penegasan terhadap materi yang telah dipelajari. Guru juga memberikan motivasi agar santri mampu mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Model pembelajaran ini selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran aktif, kolaboratif, dan berpusat pada peserta didik. Selain itu, pendekatan ini juga mendukung konsep deep learning, karena santri tidak hanya menghafal materi, tetapi memahami, menganalisis, mendiskusikan, dan mampu menjelaskan kembali dengan bahasa mereka sendiri. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih bermakna serta mampu membentuk santri yang berilmu, berakhlak mulia, memiliki kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang baik, dan siap menjadi kader dakwah di tengah masyarakat.
F