Kemuliaan Islam dalam Menjaga KehidupanRefleksi Momentum 30 September dan Tanggung Jawab Dakwah
Dr. KH. Qudsi Ahmad, M.Pd.I
Pengurus MUI DKI Jakarta | Pengasuh Ponpes Modern Tahfidz Qur’an Daar Assalam Atthohiriyah
Momentum 30 September mengingatkan kita pada salah satu episode kelam perjalanan bangsa Indonesia. Berbagai konflik politik dan kekerasan pada masa itu meninggalkan luka kemanusiaan yang panjang.
Namun, bagi umat Islam, setiap momentum sejarah seharusnya tidak berhenti pada mengingat peristiwa masa lalu. Sejarah harus menjadi ibrah, bahan muhasabah, dan sarana untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Pertanyaan penting bagi kita bukan semata-mata apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi apa yang dapat kita lakukan agar generasi mendatang tidak mengulangi kesalahan yang sama?
Di sinilah kita perlu kembali memahami kemuliaan Islam melalui konsep maqāṣid al-syarī‘ah, yaitu tujuan-tujuan utama syariat dalam mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan.
Islam Menjaga Lima Hal Pokok
Para ulama menjelaskan bahwa syariat Islam memberikan perhatian besar terhadap lima perkara utama: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
1. Menjaga Agama — Hifzh ad-Dīn
Islam datang untuk menjaga iman dan kehidupan beragama manusia. Tetapi menjaga agama tidak berarti membenarkan permusuhan dan kekerasan.
Allah SWT berfirman:
«“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.”
QS. An-Nahl: 125»
Karena itu, dakwah harus menghadirkan hikmah. Semakin dalam ilmu agama seseorang, semestinya semakin baik akhlaknya, semakin santun tutur katanya, dan semakin besar kepeduliannya terhadap sesama.
2. Menjaga Jiwa — Hifzh an-Nafs
Islam sangat memuliakan kehidupan manusia.
Allah SWT berfirman:
«“Barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.”
QS. Al-Ma'idah: 32»
Ayat ini memberikan pesan bahwa kehidupan manusia memiliki kehormatan yang sangat tinggi.
Maka, perbedaan pandangan, pilihan, maupun kepentingan tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan kekerasan.
Dakwah harus menjadi jalan menjaga kehidupan, bukan jalan mempertajam permusuhan.
3. Menjaga Akal — Hifzh al-'Aql
Islam adalah agama ilmu.
Akal harus dijaga karena dengannya manusia mampu memahami kebenaran, mempertimbangkan akibat sebuah tindakan, dan membedakan informasi yang benar dengan informasi yang menyesatkan.
Al-Qur'an mengajarkan:
«“Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.”
QS. Al-Hujurat: 6»
Pesan ini semakin relevan di era media sosial.
Hari ini provokasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Potongan video, judul berita, foto, dan pesan berantai dapat membentuk opini sebelum kebenarannya diperiksa.
Karena itu, dai bukan hanya penyampai ilmu agama, tetapi juga harus menjadi penjaga akal dan literasi umat.
4. Menjaga Keturunan — Hifzh an-Nasl
Islam memandang generasi sebagai amanah.
Anak-anak kita tidak boleh mewarisi kebencian, dendam, dan permusuhan dari konflik masa lalu.
Yang harus kita wariskan adalah iman, ilmu, akhlak, persaudaraan, dan kecintaan kepada bangsa.
Sejarah perlu diajarkan secara jujur dan kritis, tetapi jangan sampai sejarah berubah menjadi bahan untuk menanamkan kebencian antargenerasi.
Sejarah harus menjadi guru, bukan sumber dendam.
5. Menjaga Harta — Hifzh al-Māl
Islam juga memberikan perlindungan terhadap harta dan hak milik manusia.
Kejujuran, amanah, keadilan, dan tanggung jawab merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Sebaliknya, pencurian, penipuan, perampasan, dan pengkhianatan terhadap amanah merupakan perbuatan yang dilarang.
Karena itu, dakwah tentang harta harus mendorong umat untuk membangun kehidupan ekonomi yang halal, jujur, produktif, dan saling membantu.
Tanggung Jawab Dai di Tengah Masyarakat
Di sinilah peran ulama dan dai menjadi sangat penting.
Ketika masyarakat mudah terpecah, dai harus menjadi perekat.
Ketika informasi yang belum jelas beredar, dai harus mengajarkan tabayyun.
Ketika kebencian meningkat, dai harus menghidupkan ukhuwah.
Ketika generasi muda kehilangan arah, dai harus menghadirkan keteladanan.
Dan ketika perbedaan muncul, dai harus mengajarkan adab dalam berbeda.
Dakwah tidak boleh hanya berhenti di mimbar. Dakwah harus hadir dalam kehidupan nyata masyarakat.
Ajakan Praktis untuk Para Dai
Mari kita mulai dari langkah-langkah sederhana.
Pertama, jadikan setiap mimbar sebagai ruang menyejukkan dan mencerdaskan umat.
Kedua, biasakan jamaah melakukan tabayyun sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.
Ketiga, dekatkan dakwah dengan generasi muda melalui sekolah, pesantren, kampus, majelis taklim, dan media sosial.
Keempat, ketika membahas sejarah, ajarkan fakta dan hikmahnya. Jangan menjadikan sejarah sebagai alat untuk mewariskan kebencian.
Kelima, hadirkan dakwah dalam bentuk pelayanan sosial: pendidikan, santunan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, kepedulian terhadap lingkungan, dan pembinaan generasi muda.
Sebab dai jangan hanya hadir ketika umat membutuhkan ceramah; dai juga harus hadir ketika umat membutuhkan pertolongan.
Dari Sejarah Menuju Kemaslahatan
Momentum 30 September dapat kita jadikan cermin.
Bangsa ini pernah mengalami konflik dan kekerasan yang meninggalkan luka panjang. Tugas kita hari ini bukan memperpanjang luka tersebut, tetapi mengambil pelajaran agar kehidupan bangsa ke depan semakin damai dan bermartabat.
Islam telah memberikan prinsip yang sangat jelas:
Agama harus dijaga.
Jiwa harus dijaga.
Akal harus dijaga.
Keturunan harus dijaga.
Harta harus dijaga.
Lima prinsip tersebut bukan sekadar konsep dalam kitab-kitab keislaman. Ia merupakan pedoman untuk membangun kehidupan manusia yang aman, adil, dan bermartabat.
Penutup
Kita tidak ingin generasi muda hanya mengetahui tanggal dan nama dalam sejarah. Kita ingin mereka memahami hikmah di balik sejarah.
Kita tidak ingin mereka mewarisi dendam masa lalu. Kita ingin mereka mewarisi ilmu, iman, akhlak, dan persaudaraan.
Karena itu, mari para ulama dan dai menjadikan momentum ini sebagai gerakan dakwah yang mencerdaskan, menyejukkan, dan mempersatukan.
Mari kita jadikan masjid sebagai pusat ilmu, majelis taklim sebagai ruang persaudaraan, mimbar sebagai sumber kesejukan, dan dakwah sebagai jalan menghadirkan kemaslahatan.
Sebab kemuliaan Islam bukan hanya terletak pada bagaimana manusia beribadah kepada Allah, tetapi juga pada bagaimana manusia menjaga kehidupan, menghormati sesama, menjaga amanah, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Dakwah kita hari ini harus mampu menjaga agama tanpa kehilangan kemanusiaan, menjaga akidah tanpa menebarkan kebencian, dan menjaga persatuan tanpa menghilangkan perbedaan.
Itulah wajah Islam yang rahmatan lil-'alamin.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.