Bukan Sekadar Belajar Sejarah, Santri Daar Assalam Dilatih Berani Bicara soal G30S/PKI
Bekasi, 30 September 2026 — Peristiwa G30S/PKI tidak hanya dipelajari melalui buku dan materi pembelajaran. Santri Pondok Pesantren Modern Tahfidz Qur’an Daar Assalam Atthohiriyah mengkajinya melalui forum diskusi yang melatih keberanian berbicara dan kemampuan menyampaikan gagasan.
Diskusi yang digelar Rabu (30/9/2026) tersebut melibatkan santri putra dan putri. Santri kelas 4 dan 5 tampil sebagai pembicara, sedangkan para asatidz serta santri kelas 1, 2, dan 3 mengikuti kegiatan sebagai peserta.
Forum berlangsung interaktif. Para santri diberi kesempatan menyampaikan ide pokok, pemahaman, serta pandangan mereka terkait peristiwa G30S/PKI di hadapan peserta lainnya.
Mudir Pondok Pesantren Modern Tahfidz Qur’an Daar Assalam Atthohiriyah, Dr. KH. Qudsi Ahmad, M.Pd.I., mengapresiasi kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan diskusi memiliki nilai penting dalam proses pendidikan santri. Pembelajaran tidak cukup hanya dengan kemampuan memahami materi, tetapi juga harus diikuti keberanian mengemukakan gagasan di ruang publik.
“Diskusi seperti ini sekaligus melatih kemampuan dan keberanian santri untuk menyampaikan ide-ide pokok serta berbicara di depan forum,” kata Qudsi.
Ia menilai pengalaman tampil di hadapan forum akan menjadi bekal penting bagi santri ketika kelak terjun ke tengah masyarakat. Kemampuan menyampaikan gagasan secara tertib, argumentatif, dan bertanggung jawab merupakan bagian dari keterampilan yang perlu dibangun sejak di lingkungan pesantren.
Kegiatan berjalan dengan baik dan lancar. Melalui forum semacam ini, pesantren berupaya membangun tradisi belajar yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga mendorong santri untuk aktif berdiskusi, berani berbicara, dan mampu mempertanggungjawabkan gagasannya.
Dari pesantren, sejarah tidak hanya dihafalkan, tetapi didiskusikan agar santri belajar memahami, berpikir, dan berani menyampaikan pendapat.