OKTOBER DALAM DUA JEJAK SEJARAH: SEMANGAT PERJUANGAN SANTRI DAN KEPERGIAN SANG SINGA PODIUM Refleksi Hari Santri 2026 dan Warisan Dakwah KH. Syukron Makmun
Oleh: Dr. KH. Qudsi Ahmad, M.Pd.I.
Oktober memiliki makna mendalam bagi dunia pesantren dan perjalanan bangsa Indonesia. Pada 22 Oktober 1945, Resolusi Jihad mengobarkan semangat perjuangan ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Delapan puluh satu tahun kemudian, menjelang peringatan Hari Santri 2026, Jakarta berduka atas berpulangnya Prof. KH. Syukron Makmun, ulama kharismatik yang dikenal sebagai Sang Singa Podium.
Beliau merupakan sosok ulama yang tegas, lantang, pemberani, dan kaya gagasan. Kritik-kritiknya tajam, bernas, sekaligus menawarkan pemikiran solutif bagi kemajuan umat. Keteguhannya dalam berdakwah menjadi teladan tentang keberanian menyampaikan kebenaran, kecerdasan membaca persoalan, serta tanggung jawab moral seorang ulama di tengah masyarakat.
Melalui pendidikan dan dakwah, beliau telah menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi santri dan alumni yang kini tersebar di berbagai bidang pengabdian, termasuk organisasi keumatan seperti MUI, DMI, dan lembaga kemasyarakatan lainnya. Kiprah mereka menjadi bagian dari warisan intelektual, spiritual, dan sosial yang ditinggalkan beliau.
Kini, sang guru telah berpulang. Namun, sebuah pertanyaan besar patut kita renungkan: Bagaimana dengan kita, para santri, alumni, jamaah, dan kader-kader umat?
Apakah kita cukup mengenang kebesaran beliau, atau justru harus bangkit melanjutkan perjuangannya?
Beliau telah menanam benih perjuangan. Akarnya telah menguat, batangnya tumbuh kokoh, dan cabangnya menjalar ke berbagai penjuru. Kini menjadi tanggung jawab generasi penerus untuk merawat, menyirami, dan memastikan pohon dakwah tersebut terus tumbuh serta memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.
Jangan sampai kita bangga dengan keberanian guru, tetapi takut menyampaikan kebenaran. Jangan sampai kita mengagumi kecerdasannya, tetapi enggan melahirkan gagasan dan solusi. Sebab, penghormatan terbaik kepada seorang guru bukan sekadar mengenang namanya, melainkan meneruskan nilai dan cita-cita perjuangannya.
Hari Santri 2026 harus menjadi momentum mengubah duka menjadi energi perjuangan. Tantangan zaman membutuhkan santri yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga berakhlak, berpikiran maju, kritis, berani, dan mampu menghadirkan solusi bagi persoalan umat.
KH. Syukron Makmun telah meninggalkan warisan perjuangan yang berharga. Tongkat estafet dakwah kini berada di tangan generasi penerus untuk dilanjutkan melalui pendidikan, kaderisasi, penguatan persatuan, dan pengabdian nyata kepada masyarakat.
Sang Singa Podium telah berpulang, tetapi gema perjuangannya tidak boleh hilang. Ulama boleh wafat, tetapi ilmu dan keteladanannya harus tetap hidup. Sang guru boleh pergi, tetapi api dakwahnya harus terus menyala.
Selamat memperingati Hari Santri Nasional 2026.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan perjuangan KH. Syukron Makmun, serta menganugerahkan kepada umat generasi penerus yang mampu menjaga dan melanjutkan cita-cita dakwahnya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.