Bergandengan Tangan Memeluk Gunung: Kekuatan Kebersamaan dalam Pendidikan dan Dakwah
Oleh: Dr. KH. Qudsi Ahmad, M.Pd.I
Ada sebuah ungkapan peribahasa yang berbunyi:
“Maksud hati ingin memeluk gunung, apalah daya tangan tidak sampai.”
Peribahasa ini menggambarkan keadaan ketika seseorang memiliki cita-cita besar, keinginan yang tinggi, namun kemampuan yang dimiliki terasa belum cukup untuk mencapainya. Sekilas, ungkapan ini mengandung nuansa keputusasaan karena sesuatu yang diharapkan belum berhasil diraih.
Namun, apabila ungkapan ini kita lanjutkan dengan sudut pandang yang berbeda, maka maknanya dapat berubah menjadi energi dan motivasi yang luar biasa.
“Maksud hati ingin memeluk gunung, apalah daya tangan tidak sampai. Oleh sebab itu, mari kita berdiri bergandengan tangan. Semakin banyak tangan yang saling terulur dan semakin erat kebersamaan terjalin, maka sebesar apa pun gunung itu, niscaya akan dapat dipeluk bersama-sama.”
Ungkapan ini mengajarkan bahwa kebersamaan melahirkan kekuatan. Apa yang tidak mampu dilakukan seorang diri, sering kali menjadi mungkin ketika dikerjakan bersama. Inilah hakikat dari pepatah:
“Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”
Dalam aspek pendidikan, tantangan yang dihadapi tidaklah kecil. Membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing bukan tugas satu orang atau satu lembaga saja. Dibutuhkan sinergi antara sekolah, pesantren, keluarga, tokoh masyarakat, pemerintah, dan seluruh elemen umat. Ketika semua pihak bergandengan tangan, maka cita-cita besar untuk membangun masyarakat yang cerdas dan beradab akan lebih mudah diwujudkan.
Demikian pula dalam dunia dakwah. Tanggung jawab amar ma’ruf nahi munkar bukan tugas individu semata. Dakwah memerlukan keterlibatan semua unsur masyarakat, dari berbagai latar belakang dan profesi. Ada yang berdakwah melalui lisan, tulisan, pendidikan, keteladanan, pelayanan sosial, maupun penguatan ekonomi umat.
Dengan semangat saling membantu, saling menopang, dan saling menguatkan, maka pesan-pesan kebaikan akan menjangkau lebih banyak manusia, menembus batas wilayah dan generasi.
Harapan besar untuk mewujudkan masyarakat yang madani, masyarakat yang penuh kemaslahatan, menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur bukanlah angan-angan yang mustahil. Ia dapat diraih ketika umat mampu menjaga persatuan, memperkuat kolaborasi, dan menumbuhkan semangat gotong royong.
Karena pada akhirnya, gunung yang terlalu besar untuk dipeluk seorang diri, akan terasa mungkin ketika dipeluk bersama-sama.