Dakwah Didasari dengan Cinta: Pelajaran Berharga dari Peristiwa Thaif
Oleh: Dr. KH. Qudsi Ahmad, M.Pd.I
Perjalanan dakwah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan perjalanan yang penuh dengan pengorbanan, kesabaran, dan cinta yang mendalam kepada umat manusia. Salah satu peristiwa yang menjadi bukti nyata tentang besarnya cinta Rasulullah dalam berdakwah adalah peristiwa Thaif.
Setelah menghadapi berbagai tekanan dan penolakan di Makkah, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pergi ke Thaif dengan harapan mendapatkan dukungan dan membuka jalan bagi penyebaran Islam. Namun, harapan tersebut tidak terwujud sebagaimana yang diinginkan. Kedatangan Rasulullah tidak disambut dengan keramahan, penghormatan, atau jamuan yang istimewa. Sebaliknya, para pembesar Thaif menolak dakwah beliau dengan cara yang sangat kasar dan menyakitkan.
Mereka tidak hanya menghina dan merendahkan Rasulullah, tetapi juga memprovokasi masyarakat untuk mengusir beliau. Akibatnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dilempari batu oleh penduduk Thaif hingga tubuh beliau terluka dan darah mengalir dari kedua kaki mulianya.
Dalam peristiwa yang menyedihkan tersebut, Sayyidina Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhu dengan penuh keberanian berusaha melindungi Rasulullah dari lemparan batu. Ia menghadang berbagai serangan yang datang demi menjaga keselamatan Rasulullah. Namun derasnya lemparan batu dari masyarakat Thaif membuat keduanya mengalami penderitaan yang sangat berat.
Di tengah kondisi yang memilukan itu, Malaikat Jibril datang bersama malaikat penjaga gunung. Mereka menawarkan kepada Rasulullah untuk membinasakan penduduk Thaif dengan menghimpit mereka menggunakan dua gunung yang mengelilingi kota tersebut. Secara manusiawi, tawaran itu sangat pantas diberikan mengingat besarnya kezaliman yang telah dilakukan masyarakat Thaif.
Namun di sinilah tampak keagungan akhlak dan luasnya cinta Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Beliau menolak tawaran tersebut. Rasulullah tidak menghendaki kehancuran bagi mereka yang telah menyakitinya. Sebaliknya, beliau berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar dari keturunan mereka lahir generasi-generasi yang beriman, menerima Islam, dan menjadi pembela agama Allah.
Doa tersebut menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah dibangun di atas fondasi cinta, bukan kebencian. Beliau tidak memandang manusia dari kesalahan mereka saat ini, tetapi melihat potensi kebaikan yang mungkin tumbuh di masa depan. Rasulullah menginginkan keselamatan dan hidayah bagi mereka, meskipun mereka telah memperlakukan beliau dengan sangat buruk.
Kesabaran, keikhlasan, dan kasih sayang Rasulullah akhirnya membuahkan hasil. Beberapa tahun kemudian, masyarakat Thaif mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka menerima Islam dan masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Kota yang dahulu menolak dan menyakiti Rasulullah akhirnya menjadi bagian dari kekuatan umat Islam.
Peristiwa Thaif memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para dai, guru, pemimpin, dan seluruh umat Islam. Dakwah yang efektif bukanlah dakwah yang dibangun di atas kemarahan dan kebencian, melainkan dakwah yang dilandasi oleh cinta, kesabaran, dan harapan akan datangnya hidayah dari Allah. Terkadang orang yang hari ini menolak kebenaran justru menjadi pembelanya di masa yang akan datang.
Di era modern ini, semangat dakwah dengan cinta perlu terus dihidupkan. Perbedaan pendapat, penolakan, bahkan cibiran tidak boleh menghilangkan kasih sayang kepada sesama. Sebab tujuan dakwah bukanlah memenangkan perdebatan, melainkan mengantarkan manusia menuju hidayah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Semoga kita dapat meneladani Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam berdakwah, bersabar menghadapi ujian, serta senantiasa mengedepankan cinta dan kasih sayang dalam mengajak manusia menuju jalan Allah. Karena sesungguhnya dakwah yang lahir dari cinta akan lebih mudah menyentuh hati dan menghadirkan perubahan yang hakiki.
"Dakwah yang didasari cinta akan melahirkan kesabaran, dan kesabaran akan membuka pintu hidayah."
Wallahu a'lam bish-shawab.