Banner

Hijrah: Bergerak, Berikhtiar, dan Berprasangka Baik kepada Allah

Oleh: Dr. KH. Qudsi Ahmad, M.Pd.I
Pengasuh Pondok Pesantren Modern Tahfidz Quran Daar Assalam Athohiriyah

Hijrah merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dari Kota Mekah menuju Kota Madinah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi sebuah langkah besar yang mengubah arah peradaban Islam.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berdakwah di Mekah kurang lebih selama 13 tahun. Dalam rentang waktu tersebut, beliau menghadapi berbagai tantangan, penolakan, tekanan, hingga ujian yang berat. Namun perjuangan itu tidak berhenti. Atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasulullah kemudian berhijrah ke Madinah dan melanjutkan dakwah selama kurang lebih 10 tahun hingga Islam berkembang menjadi kekuatan peradaban yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Peristiwa hijrah mengajarkan bahwa kehidupan menuntut manusia untuk terus bergerak dan aktif dalam kebaikan. Tidak semua perubahan harus dipahami sebagai meninggalkan sesuatu, tetapi terkadang perubahan adalah jalan menuju pertumbuhan, kemajuan, dan keberkahan yang lebih besar.

Setiap langkah yang dilakukan manusia akan bernilai apabila didasari oleh ketulusan, keikhlasan, dan pengabdian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia sering kali tidak mengetahui apakah suatu tempat, keadaan, atau keputusan akan membawa hasil yang lebih baik atau justru sebaliknya. Namun seorang mukmin diajarkan untuk memiliki husnuzan—prasangka baik kepada Allah.

Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan:

> أنا عند ظن عبدي بي
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

Hadis ini menjadi pengingat bahwa optimisme dan keyakinan kepada pertolongan Allah adalah bagian penting dalam perjalanan hidup seorang muslim.

Hijrahnya Rasulullah dari Mekah ke Madinah menjadi spirit bagi umat Islam untuk tidak berhenti pada kondisi yang ada. Umat dituntut untuk terus berikhtiar, aktif dalam berbagai kegiatan yang membawa manfaat, memperbaiki kualitas diri, membangun pendidikan, memperkuat dakwah, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Peristiwa hijrah juga mengajarkan bahwa manusia hanya memiliki kewajiban untuk berusaha dan berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Adapun hasil, keberhasilan di masa depan, dan berbagai rahasia kehidupan berada dalam ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tugas kita adalah melangkah dengan niat yang lurus, bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Biarlah Allah yang membalas setiap langkah, setiap pengorbanan, dan setiap tetes keringat yang dikeluarkan demi kemaslahatan umat.

Semangat hijrah bukan hanya milik masa lalu, tetapi menjadi energi perubahan sepanjang zaman—agar kejayaan Islam dan kemajuan umat menjadi kenyataan, menuju ‘Izzul Islam wal Muslimin.
F