Hijrah dan Keyakinan kepada Rencana Allah
Oleh: Dr. KH. Qudsi Ahmad, M.Pd.I
Pengasuh Pondok Pesantren Modern Tahfidz Quran Daar Assalam Athohiriyah
Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali ingin mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Kita ingin memastikan masa depan, menghitung setiap kemungkinan, dan memastikan seluruh langkah berjalan sesuai harapan. Namun sejarah para nabi mengajarkan bahwa tidak semua perjalanan hidup dibuka rahasianya sejak awal. Ada ruang yang memang disiapkan Allah untuk diisi dengan keimanan, ketawakalan, dan keyakinan.
Nabi Adam dan Siti Hawa tidak pernah mengetahui bagaimana kehidupan mereka setelah diturunkan ke bumi. Mereka tidak mengetahui seperti apa perjalanan panjang umat manusia yang akan lahir dari keturunannya. Yang mereka miliki hanyalah keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Nabi Musa juga tidak mengetahui apa yang akan terjadi ketika berada di tepi laut. Dalam keterbatasan dan tekanan yang dihadapi, pertolongan Allah hadir melalui jalan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Begitu pula Nabi Zakaria yang menghadapi ujian hidup tanpa mengetahui bagaimana akhir dari setiap peristiwa yang menimpanya.
Demikian pula Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika menerima perintah Allah untuk melaksanakan penyembelihan. Keduanya tidak mengetahui bahwa Allah akan menggantinya dengan seekor domba. Yang mereka tunjukkan bukan kemampuan membaca masa depan, melainkan kesempurnaan ketaatan.
Dan demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika berhijrah dari Kota Mekah menuju Kota Madinah. Beliau tidak mengetahui secara rinci bagaimana perjalanan dakwah ke depan, bagaimana kemenangan akan datang, atau bagaimana Islam akan berkembang. Namun beliau mengetahui satu hal yang paling penting: Allah adalah Dzat Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, dan Maha Mengatur seluruh kehidupan.
Dalam ibadah sa’i terdapat pengakuan kehambaan yang sangat dalam:
> أَنْتَ اللَّهُ أَعْلَمُ مَا لَا نَعْلَمُ
“Engkaulah Allah Yang Maha Mengetahui apa yang tidak kami ketahui.”
Ungkapan ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan manusia bukan alasan untuk berhenti melangkah. Kita tidak harus mengetahui seluruh masa depan untuk memulai kebaikan hari ini.
Begitulah perjalanan hidup manusia. Kita terus berjalan ke depan meskipun tidak mengetahui secara pasti apa yang menunggu di hadapan. Dalam kondisi seperti itu, keyakinan kepada Allah yang Maha Sempurna harus lebih didahulukan daripada sekadar mengikuti pertimbangan akal yang sering berubah karena berbagai informasi—kadang benar, kadang salah, kadang menenangkan, kadang justru menakutkan.
Peristiwa hijrah Rasulullah memberikan pelajaran besar bahwa hidup bukan tentang memastikan hasil, tetapi tentang memastikan niat, ikhtiar, dan ketulusan dalam melangkah.
Tugas manusia adalah berusaha sebaik mungkin, memperbaiki diri, dan menggantungkan seluruh urusan kepada Allah. Adapun hasil, waktu, dan cara Allah menghadirkan pertolongan adalah bagian dari rahasia-Nya.
Karena itu, teruslah melangkah. Tidak semua jalan harus terlihat jelas sebelum kita memulai. Cukup yakin bahwa ketika langkah dilakukan karena Allah, maka tidak ada satu pun usaha yang sia-sia.
Wallahu a‘lam bish-shawab.